Makan Taichan Emang Harus Malam

“Ky makan dulu yuk” ajak Firda, “yuk boleh, makan apa?” Responku Terhadap ajakan Firda, “Taichan Senayan aja” jawab Firda. Saat itu kami memang kelaparan setelah olahraga bareng komunitas Zone 8 dengan menu yang lumayan menyiksa.

Kamipun berangkat ke tempat parkir motor Senayan City, dimana lokasi para penjual Taichan berada, dengan berjalan kaki lewat patung panahan, agar terasa lebih jauh (iya, jalan kaki dari zona 7 GBK ke lokasi Taichan, itungitung nambah cardio).

Sampai disana, terlihat banyak sekali pedagang kaki Lima dengan barang dagangannya masing-masing, Ada yg jual mendoan, Nasi goreng, Dan yang paling banyak, Taichan. Ada berbagai merk Taichan disini, Bang Ocit, Panahan, Dan lainlain, atas rekomendasi, kami memilih Taichan Panahan sebagai santapan malam, “yg panahan Aja ky, enak” kata Firda, aku menyetujuinya, Dan kamipun memesan 30 tusuk sate beserta lontong dengan sambal yg dipisah (namanya juga gabisa makan pedas).

Tempat makan disini tidak menyediakan bangku Dan meja seperti di tempat lain, hanya beralaskan terpal, kecuali diluar lokasi dekat pintu masuk motor. Karena malas keluar lagi (walaupun ga jauh, emang dasarnya Aja malas) kami memutuskan Untuk makan dilesehan saja.

Ketika asyik menikmati suasana malam Dan bau Sate Taichan yg khas, abang Taichan Panahan datang sambil membawa 3 piring, berisikan: sambal, garam, jeruk yang dipisah di piring pertama, 30 tusuk sate di piring kedua, Dan lontong di piring ketiga (konsepnya makan tengah gitu lah).

Aku langsung memeras jeruk di piring kedua, biar Ada rasa Asam yang nagih “Sambalnya gue tuang di sate ya juga Ky?” Tanya Firda kepadaku, “Jangan Fir nanti gue gabisa makan” jawabku kepada Firda, akhirnya Firda mengalah dengan Cara mencocol Satenya ke garam Dan sambal sebelum dimakan, sedangkan aku, hanya mencocol garamnya saja, walaupun kata orang Sambalnya yang khas, tapi aku tetap mementingkan kelenturan bibirku dengan tidak memakan pedas (daripada bibir kaku kepanasan, ye gak?).

Kami menikmati tiap tusuk sate yang terdiri dari daging ayam dan kulit beserta rasa Asam, Asin Dan sensasi gurih, berminyak yang membuat ketagihan, sampai tak terasa Satenya sudah mau habis, tapi kami ragu Untuk nambah “mau nambah lagi gak Fir?” Tanyaku, “jangan Ky, Kan abis olahraga tadi, nanti percuma loh, Firda menjawab, jawaban itu seakan menamparku Untuk sadar kalau tujuan utama ke GBK Untuk ngecilin perut, bukan gedein perut. Jadi, kami memutuskan Untuk menyudahi Dan membayar.
Taichan per tusuk: Rp.2.500,-
Lontong satuan: Rp.5.000,-
Total biaya: Rp.85.000,-

Setelah bayar kami balik lagi ke GBK karena motor ditaruh disana Untuk pulang kerumah masing-masing (biar cardio lagi abis makan lemak). Tempat makan disini cocok banget buat yg suka laper tengah malem, Dan yang baru pulang dari berpergian, karena, buka dari jam 10 malam sampai pagi entah jam berapa.

Leave a comment