Mungkin banyak orang yang belum familiar dengan nama Thaif. Padahal tempat itu juga memiliki sejarah seperti kota-kota di Arab Saudi lainnya seperti Makkah dan Madinnah. Walaupun sejarahnya tidak begitu banyak, Thaif dikenal sebagai saksi bisu perjalanan Nabi Muhammad berdakwah dam bertemu kaum kafir Quraisy.
Kota ini terletak di dataran tinggi, jalan tempuhnya saja memakan waktu 1 jam 45 menit karena harus melewati Pegunungan Asir dan Pegunungan Al-Hadda yang menanjak dan berkelok-kelok. Pantas saja Thoif sering disebut wisatawan Indonesia sebagai puncaknya Arab.
Namun perjalananku dari kota Makkah menuju Thaif tidak begitu terasa karena ditemani pemandangan yang luar biasa indahnya, disepanjang jalan terlihat gunung batu yang menjulang tinggi dihiasi bangunan-bangunan khas Arab diatasnya, seperti yang kita ketahui Arab Saudi memiliki tanah yang tandus dan jarang ditanami pohon, jadi dari lembah gunung saja sudah terlihat bangunan-bangunan tersebut termasuk istana raja.
Pejalanan menuju puncak sungguh aku nikmati, terpesonanya aku dengan keindahan kota Thaif diatas yang menyajikan sedikit pepohonan, bangunan-bangunan sederhana, dan toko-toko yang menjual pernak-pernik khas Arab, namun lamunanku kala itu harus terhenti karena bis sudah dalam posisi parkir, dari tempat parkir kami berjalan menuju masjid Al Abbas yang merupakan masjid pertama di Thaif yang sekarang juga difungsikan sebagai museum Quran.
Kedatanganku dan rombongan disambut hangat oleh pihak pengelola, ia mermpersilahkan kami masuk lalu menceritakan sejarah Quran dan masjid Al Abbas. Sembari dijelaskan sejarah dari Quran tersebut, aku memandangi meja dan lemari kaca berisikan quran dari zaman dahulu yang ditulis diatas batu dan kertas tebal. Objek yang kulihat kala itu membuat suatu kilas balik dalam benakku, betapa sulitnya perjuangan nabi menulis dan mengumpulkan Qurán pada zaman itu, mengingat belum ditemukannya alat tulis yang praktis seperti sekarang.
Setelah puas melihat koleksi quran dari zaman nabi, aku menuju restoran arab Saudi yang letaknya cukup jauh, sekitar 30 menit untuk menuju restoran itu menggukanan bis.
Sesampainya di restoran aku tidak melihat meja dan kursi yang disusun membentuk suatu lingkaran, namun hanya terdapat bilik-bilik dan sebuah meja besar didalamnya, aku dan rombongan langsung menuju satu bilik lalu memesan nasi kebuli ayam sambil mengacungkan angka 7 kepada pelayan, sebagai tanda kalau kita memesan 7 porsi, sang pelayan pun hanya mengangguk lalu beranjak pergi. Setelah menunggu 15 menit makanan pun datang namun bukan 7 porsi yang dibawakan, melainkan 1 porsi nasi kebuli ayam senampan penuh dengan beberapa potongan ayam dan bawang merah. Bukannya heran dengan posi yang begitu banyak, kami malah sangat senang menyantap nasi kebuli itu “pas banget nih buat ngisi perut keroncongan “ pikirku dalam hati.
Tak lengkap jika ke suatu kota tidak membeli buah tangan, bis kami pun membawa kami ke tempat penyulingan mawar, begitu sampai dilokasi aku disuguhi video proses penyulingan mawar dan secangkir teh mawar untuk menghangatkan diri. Tentunya tak cuma teh mawar saja yang dijual disana, ada banyak sekali produk kecantikan seperti hand body, parfum, dan body mist dengan beraneka aroma seperti mawar, vanila, dan strawberry. Harganya pun relatif murah karena harga disini masih bisa ditawar, apalagi jika membeli dalam jumlah yang banyak.
Setelah puas berbelanja, bis kami menuju pasar buah yang letaknya tak jauh dari sana. Aku pun bertanya pada travel guide “pak kenapa pake beli buah segala, di Makkah kan banyak “ , travel guideku pun menjawab “kalo di Makkah buahnya udah gaada yang kayak gini “, “yang dijual paling hanya kurma dan pisang” pikirku dalam hati. Bispun tetap melanjutkan perjalanan ke pasar tersebut.
Begitu tiba disana akupun kaget dan tidak menyangka. Ternyata pikiranku salah, disini terdapat berbagai macam buah, tak hanya buah tropis seperti pisang dan kurma, banyak juga buah segar seperti aprikot, strawberry dan delima. Aku pun membeli 1 kotak aprikot dan 1 kotak delima untuk dimakan dihotel.
Betapa bahagianya diriku mendapat 2 kotak buah segar untuk mencegah dehidrasi mengingat di Makkah cuacanya cukup kering. Rindu kami dengan makan makanan yang menyegarkan terbayarkan sudah, dalam bispun aku dan rombongan nyemil buah-buah tersebut sambil ditemani pemandangan Thaif di sore hari, walaupun objek sama seperti yang sudah disebutkan diatas, pemandangan kali ini memberi kesan berbeda karena dilengkapi langit dengan gradasi warna biru, oranye, dan hitam seperti yang digambarkan dalam film Aladdin.
Perjalanan selama 8 jam di Thaif memberi kesan tersendiri bagiku. mulai dari perjalanan menuju puncak hingga turun kebawah kota ini memiliki panorama yang luar biasa indahnya. Banyak hal berbeda yang ditemukan disini, seperti taman rekreasi, unta yang didandani mengenakan berbagai macam aksesoris, bangunan yang menghiasi bukit dan lain sebagainya. Dengan durasi waktu yang diberikan masih terbilang kurang untuk merasakan atmosfir disana, Jika boleh memilih, aku ingin menginap di Thaif.
