Menapaki Desa diatas Awan

Tinggal di Jakarta yang bising dan penuh polusi membuat kepala ini penat, makannya, terpikir olehku untuk nge-trip (jalan-jalan) ke tempat yang sejuk. Pas sekali saat itu temanku Melly nawarin ikut open trip ke Dieng tanggal 3 Maret 2019. Tanpa pikir panjang, langsung setuju sama tawaran Melly, tak lupa juga aku mengajak salah satu temen SMP untuk ikut, namanya Firda biar makin ramai. Terbentuklah sudah tim untuk open trip ke Dieng saat itu. aku, Firda dan Melly.

Meeting pointnya di lobby utara, Plaza Semanggi jam 7 sore, aku dan Firda yang posisinya sudah dilokasi dari jam setengah 6, berencana untuk bertemu Melly terlebih dahulu, biar pas ke meeting point tidak canggung. Begitu ketemuan sama Melly di bread talk, kita langsung ke lobby utara untuk ketemu hosternya (tour guide), disana udah banyak orang kumpul, anak kuliahan yang baru lulus, anak kuliahan yang belum lulus, pekerja di kantor Indomaret, dan segerombolan ibu-ibu yang kerudungnya satu warna, lalu kita langsung samperin hoster yang bernama Eko untuk daftar ulang.

Gak lama setelah itu ada yang manggil Melly “Mel lu ngapain?”, “Ini gue mau ke Dieng, lu baru pulang kerja ya?” respon Melly, “iya nih, baru selesai siaran” kata si pemanggil, “lu ikut ke Dieng juga? Ikut open trip sini?” tanya Melly, “iya, ternyata ketemu temen juga, gue sendiri nih daftarnya ntar bareng ya” jawab si Pemanggil. Melly mengiyakan ajakan itu, lalu mengenalkan temannya ke kita. Ternyata namanya Ka Audi, dia seorang penyiar radio pria yang ketemu Melly di seminar penyiaran. Horee nambah lagi deh tim kita, jadi aku, Firda, Melly, dan Ka Audi, dua cowok dua cewek.

Jam 19:30 kita masuk bis ELF (mini bus gitu) untuk melakukan perjalanan ke Dieng, dengan waktu tempuh kurang lebih 9 jam. Sesampainya di Dieng, kami langsung ke homestay lalu dibagikan kamar oleh Ka Eko, gue kebagian sama ka Audi, lalu Melly dan Firda disebelah kamar kita persis. Kami semua langsung menuju kamar untuk menaruh barang-barang, lalu memulai perjalanan.

Perjalanan kami dimulai di candi Arjuna yang kompleknya dijadikan tempat perayaan Dieng Culture Festival. Candi disini tidak seperti Borobudur yang besar ataupun Prambanan yang jumlahnya banyak, melainkan memiliki bangunan candi yang kecil, hanya pas untuk satu orang, dan jumlahnya empat yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Sembrada, Candi Puntadewa. Setiap candi digunakan sebagai simbolis pemujaan terhadap dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Setelah puas mengamati bangunan Candi, kami menuju Batu Ratapan Angin, disana kami berjalan menaiki tangga batu yang cukup tinggi lalu disuguhkan pemandangan yang menakjubkan dari puncak, terlihat telaga warna dan telaga pangilon yang membentang dengan background bukit yang indah, dan embun yang tersebar di sekitarnya, karena jarang melihat pemandagan seperti itu, kami berempat mengabadikannya sebagai kenang-kenangan. Setelah puasfoto-foto kita kembali ke homestay karena hari sudah sore.

Leave a comment