Menapaki Desa diatas Awan (2)

Hari kedua di Dieng merupakan hari yang ditunggu karena kami akan tracking gunung Sikunir. Pagi itu kami bangun jam 02:00 lalu siap-siap ke bis elf, untung saja saat itu kami semua on time, sehingga bisa mulai perjalanan sesuai waktu yang ditentukan. Tidak sampai satu jam kami sudah sampai di tempat wisata bukit Sikunir, tapi sayangnya tidak bisa lngsung tracking karena sedang hujan, jadi menunggu hujan reda dulu di warung kopi terdekat sekalian menghangatkan diri. Ketika jam 03:30 hujan sudah reda dan kamipun mulai tracking ke gunung sikunir ditemani dinginnya udara pagi dan kegelapan, untung saja Firda bawa senter kepala, jadi bisa membantu kami. Kami terus naik sesuai arahan ka Eko sampai ke musholla untuk menunaikan shalat Subuh, setelah sholat kami naik bukit kecil didepannya untuk melihat sunrise, kata ka Eko itu tempat terbaik untuk hunting sunrise. Diatas kami menunggu cukup lama sampai matahari datang, ketika sudah waktunya, kami tidak berhasil melihatnya, karena awan yang tebal menutup sinar matahari, padahal kata penjual kopi dibawah tadi minggu ini sunrisenya lagi bagus, tapi mau bagaimana lagi? Takdir berkata lain. Pupuslah sudah harapan untuk melihat sunrise Dieng yang menawan. Tapi tidak apa-apa sampai dipuncak Dieng adalah pencapaian berharga bagi orang yang tidak pernah naik gunung seperti kami. Diatas kami berkenalan dan berfoto dengan teman-teman satu rombongan kami, yaitu Evi dan Caca para anak kuliahan yang masih kuliah, Yudis, Niko, Gilang, dan Chris para karyawan Indomaret.

Setelah puas berfoto kami turun kembali ke bis Elf dan melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang. Betapa senangnya kami, ternyata disana ada banyak permainan seperti flying fox, motor ATV dan masih banyak lagi, tanpa ragu aku, Firda, sama ka Audi langsung naik Flying Fox sampai bawah dengan tarif 25.000. Dibawah kami melihat aktivitas vulkanik yang menampilkan kawah mendidih dengan letupan kawah yang seperti kijang loncat dan mengeluarkan gas, karena itu namanya kawah Sikidang yang diambil dari kata Kijang.

Dibelakang kawah kami melihat ada bukit yang tidak tinggi tapi cukup seru untuk dikunjungi. Aku, Firda, ka Audi langsung naik ke atas bukit dan disana bertemu Evi, Caca, Niko, Kris, Yudis, dan Gilang, tidak disangka walaupun tanpa rencana bisa ketemu lagi disini, mungkin emang udah sehati kali ya, hehe. Tanpa menunggu lama kami langsung foto rame-rame dengan pemandangan kawah mendidih, dan itu indah banget, sampe kita semua foto di segala titik.

Tak terasa jam pulang sudah hampir tiba, itu artinya kita harus kembali ke bis ELF dan pulang ke Jakarta. Terima kasih Dieng atas pengalamannya, tidak heran jika Dieng dijuluki kota diatas awan karena dari Sikunir terlihat kabut tebal yang menyerupai awan dibawahnya, tidak lupa juga atas kesejukan dan ketenangan yang diberikan membuat kita lupa sesaat akan penatnya tinggal di Jakarta. Sampai bertemu lagi, jangan lupa siapkan sunrise terbaikmu ya, karena aku belum pernah lihat.

Leave a comment