Perjalananku ke Bandung kali ini, tak hanya diisi dengan kegiatan mencicipi kuliner dan window shopping di outlet, namun kali ini aku menyempatkan diri Pergi ke hutan untuk merasakan atmosfir alam.
Sudah cukup muak dengan kemacetan dan keramaian kota Jakarta membuatku berpikir “kenapa di Bandung ga kehutan aja? “. Sekalian untuk refreshing pikiran dan menstabilkan emosi (Orang jakarta pasti tahu gimana emosinya saat macet). Untung saja saat kuutarakan niatku ke untuk pergi ke hutan, teman-teman setuju.
Saat itu kami memang sedang menyusun rencana perjalanan sambil menikmati roti coklat dan roti daging+telur di Roti Gempol yang terletak gang Gempol. Roti yang terkenal karena homemade ini memiliki tekstur lembut dan chewy, menciptakan kesan tersendiri saat mencicipinya.
Selesai menikmati roti panggang, kamipun berangkat menggunakan mobil menuju Taman Hutan Raya yang letaknya di Kompleks Tahura Ir. H. Djuanda No.99, Dago Pakar, Ciburial, Cimenyan, Bandung. Karena saat itu jalanan tidak macet, Perjalanan menuju Dago Pakar ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit.
Ketika sampai lokasi yg dimaksud, mobil kami kelewatan, lalu saat itu juga kami memutuskan untuk ngopi sejenak di Armor Coffee yang letaknya tidak jauh dari Tahura, hanya sekitar 5menit. Dari luar terlihat bangunan kayu kecil dengan konsep desain terbuka “pasti itu tempat ngopinya” kataku pada temanteman, kemudian mereka mengiyakan.
Mobilpun diparkirkan dan kami langsung menuju bangunan kayu itu yang merupakan tempat memesan kopi. Didalam tidak terlihat tembok, melainkan hanya susunan kayu dan kaca yg langsung tertuju ke pemandangan di area tempat duduk, udara dingin yang menyelmuti ruangan itu membuatku berpikir untuk memesan hot black tea untuk menghangatkan badan (emang agak aneh sih ya, ketempat ngopi mesennya malah teh).
Selesai memesan aku pun berjalan menuju area tempat duduk, dari pintu masuknya sudah terlihat saung saung, dan susunan tempat duduk yang menghiasi halaman luas tersebut. Jika kalian merokok inilah tempat terbaik, tapi jika tidak merokok kalian harus berjalan sedikit menuju bangunan kayu yang lebih kecil, letaknya ada di pojok kanan halaman.
Aku dan teman teman sepakat untuk duduk di saung karena selain jumlah kami 6 orang, kami mengantisipasi jika gerimis tak perlu bubar atau ngopi sambil pake payung (<-ini agak aneh sih). Begitu duduk di saung aku langsung menghela napas dan menyelonjorkan kaki, untung saja saungnya cukup lebar untuk 6 orang, jadi tak perlu duduk bersila kayak orang mau yoga.

Di saung sederhana itu dilengkapi dengan Obrolan hangat, minuman hangat, sejuknya pegunungan, ditemani suara jangkrik yg bersaut sautan menciptakan perspektif baru dalam benakku tentang tempat ngopi. Ternyata kita bisa ngopi sambil relaksasi.
Setalah puas ngobrol dan cangkir minuman kosong. Kamipun bergegas menuju Tahura sekitar jam 15:30. Saat sampai di Tahura (Taman Hutan Raya) kami tak perlu waktu lama untuk mencari parkir, karena memang tidak begitu ramai dan lahan parkirnya pun luas. Pengunjung lain pun jarang terlihat karena memang saat itu kami pergi saat long weekend jumat agung, mungkin jika musim liburan pengunjung akan lebih banyak.
Setelah parkir, kamipun menuju loket masuk dan membeli tiket. Harga tiket disini dikenakan biaya 12.000 untuk satu orang. Begitu tiket didapat, kami masuk kedalam ditemani udara segar yang sangat sejuk untuk menyusuri jalan setapak menuju hutan.
sembari berjalan tak lupa kami berfoto bersama karena memang disana terdapat banyak spot foto yang instagrammable, ada jembatan warna merah yang bawahnya sungai, tangga dengan pohon di kanan kirinya, Lereng gunung dan juga jembatan putih yang paling instagramable.
Setelah puas berfoto kami langsung pulang, karena hari itu sudah terlalu sore dan Tahura tutup jam 6.
Perjalanan dari tempat wisata ke tempat parkir mudah dijangkau karena banyak papan petunjuk di setiap sudut, jika masih bingung bisa tanya akang akang petugas disana, mereka pasti siap membantu.
Sesampainya dimobil, kami langsung jalan menuju rumah teman kami di gang Gempol. Selama perjalanan pulang kami membuka kaca mobil agar udara segar dari pegunungan bisa masuk (Itung itung car freshner alami, daripada pake pengharum buatan terus). Tak lupa aku bilang terimakasih ke teman-temanku “makasih banget ya Man, Yar, Yas, Syo, Ran, kalian tuh udah ngewujudin citacita gue untuk pergi ke hutan”.
Tak kusangka ternyata cita-citaku terwujud di Bandung. Dataran tinggi, pepohonan yang menjulang, kesejukkan tiada tara membuatku berpikir “rugi kalo keBandung cuma ke Outlet “. Disini kami bisa merasakan keindahan alam dan setidaknya hanya untuk berkenalan.