Saat diajari sejarah sejak SMP aku selalu terkesima ketika guru menerangkan tentang Kota Surabaya Serta sejarah yang menyelimutinya, peristiwa 10 November Dan rumah H.O.S Cokroaminoto adalah favoritkuku. Bulan Agustus aku mendapatkan kesempatan Untuk mengunjunginya.
Saat itu aku dan keluargaku berangkat menggunakan kereta ekonomi dengan tarif Rp.280.000,- (tidak pp). Perjalanan memakan waktu 12 jam, jadi kami sampai Surabaya jam 2 pagi karena keberangkatan jam 2 Siang (capek sih, abis gaada keberangkatan pagi).
Begitu sampai Surabaya jam 01:30, kami istirahat di hotel V3: Veni Vidi Vici. Tapi bukan cek in yg dimaksud melainkan istirahat di sofa lobby hotelnya, karena kami sampai terlalu pagi sedangkan baru bisa check in jam 07:30 (jadi yaudah deh malam itu tidur disofa Aja). Cukup lama kami menunggu sampai harus sarapan dulu di Kate hotel untuk mengulur waktu.
Selesai sarapan jam sudah diangka 07:30, itu artinya sudah bisa check in, jadi kami langsung masuk kamar Dan lanjut tidur. Bangun-bangun jam 10:00 kami langsung menuju museum 10 November (yg Ada tugu pahlawannya) di jalan Pahlawan, Bubutan.

Di gerbang depannya terdapat patung Soekarno yang dikelilingi Pilar-pilar bekas reruntuhan. Ketika menyusuri tamannya menuju dalam museum kami mendapati Mobil vintage bung Tomo yang dipajang didekat pintu masuk museum.

Sampai pintu masuk museum kami membeli tiket di loket seharga Rp.5.000,- dan langsung kebawah menuju museum lewat turunan landai. Dibawah kami disuguhi benda-benda bersejarah peninggalan peristiwa 10 November.

Disana Ada juga replika Soekarno yang sedang menyanpaikan pidato bersama kolega-koleganya, didepannya Ada replika radio vintage kecil yang kalau dinyalakan memutar rekaman pidato Soekarno Pada Masa itu, bisa terdengar perjuangan beliau dalam mempersatukan Indonesia Untuk berjuang melawan Inggris ketika menerima pamflet berisi ancaman dari tentara Inggris (ingatlah perjuangan presiden pertama Kita dalam mempersatukan bangsa ini, jangan mau Kita terpecah belah karena berbeda pilihan Aja ya).
Di dinding museum juga ada narasi cerita Dan foto-foto dari peristiwa 10 November, jadi Kita bisa membayangkan bagaimana perjuangan kakek moyang Kita melawan tentara Inggris (karena yg perang itu cowok, jadi sebutnya pake kakek) dan melihat bagaimana sulitnya para nenek moyang Kita (karena yg ngungsi itu cewek, jadi sebutnya baru pake nenek) beserta anak-anak mengungsi ketempat yang lebih aman.
Setelah puas melihat kilas balik sejarah 10 November kami keluar menuju museum lainnya. 10 November menjadi salah Satu Hari bersejarah terbesar Indonesia, segala benda peninggalan Dan narasi yang ditampilkan membuatku kagun dengan perjuangan para Pahlawan dalam menyatukan kala itu, sekaligus membuatku sedih ketika mengetahui mereka harus Kabur meninggalkan rumah Untuk mencari tempat yang lebih aman. Pahlawanku, terimakasih sudah berjuang Untuk Indonesia.