Hidup di Jakarta yang sangat dinamis, menuntut kita untuk bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain, tak peduli macet, hujan, ataupun banjir. Kebutuhan tersebut kadang membuat kita letih, dan tak bersemangat, jadi liburan sambal relaksasi mungkin pas untuk mengobati penatnya hidup di Jakarta.
Hari minggu mama mengajakku untuk ikut kondangan tanggal 27 Oktober 2019 Bersama bude Nani dan bude Atun di daerah Tegal. Awalnya aku menolak karena kupikir akan membosankan, “Engga ah ma, bosen nanti, lagian kan acara ibu-ibu”, tapi mama membujukku kalau sehabis kondangan akan jalan-jalan ke air terjun Guci, tanpa piker Panjang akupun mengiyakan ajakan mama, tak lupa juga mama mengajak saudaraku Riki untuk ikut buat nemenin saya (kan kasian juga ya kalo aku ikut tapi anak muda sendiri).
Mama pun memesan tiket kereta ke Tegal dengan kereta Tegal Express seharga Rp.49.000,- untuk satu tiketnya, jadi pulang pergi harganya Rp.99.000,-. Deangan tiket yang super murah itu kami berangkat pada tanggal 27. Keretanya bagus, bersih, full ac walaupun posisi bangkunya kurang nyaman karena berhadapan, tapi lumayanlah dengan harga segitu.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 4 jam, sampai juga kami di stasiun Tegal, disana sudah ada saudara kami om Pongki yang sudah siap menjemput untuk ke lokasi kondangan “Gimana, capek gak dari Jakarta?”, “capek banget, pegel badan gue” Bude Atun menjawab. Dari stasiun ke lokasi kondangan hanya memakan waktu 10 menit (kan ga macet) yang mana sangat cepat menurutku. Sesampainya disana kami salaman sama penganten lalu makan sampai kenyang, itung-itung persiapan tenaga untuk ke Guci pada hari itu.
Selesai kondangan dan cipika cipiki, kami menuju Guci untuk bermalam disana. Bude Nani bertanya, “Pongki, disana ada vila gak? yang murah aja”, “ada nih gue, kalo bayaran tenang aja, ga mahal-mahal kok, apalagi bukan musim libuan” om Pongki menjawab. Vila yang kami tempati atas rekomendasi om Pongki bernama vila kenanga berisi 4 kamar tidur, 2 kamar mandi dan satu ruang TV, dipatok dengan harga Rp.500.000,- per malam.

Sesampainya di villa hari sudah malam, sekitar jam 22:00, dan badan terasa sangat letih, maka dari itu om Pongki mengajak kami semua untuk ke pemandian air panas Guci yang memang dibuka 24 jam, Riki bertanya “Om tempat mandinya dalem gak?”, om Pongki menjawab, “ya engga lah, kan bukan di kawah”, kami semua pun tertawa karena respon om Pongki.
Sampai disana kami langsung menuju tempat pemandiannya, melewati loket tanpa penjaga (kalo datang jam segitu tidak perlu bayar tiket masuk, karena tidak ada penjaganya). Ada 2 tempat pemandiannya, yang satu dilengkapi beberapa kucuran air, jadi bisa untuk bilasan, satunya lagi berbentuk sungai, jadi bias buat berenang kayak ikan pesut, letaknyapun tidak berjauhan, persis berseberangan.

Pilihan pertamaku jatuh ke tempat pemandian yang seperti sungai karena lebih seru, bisa sambal jalan-jalan, naik-naik ke batu, dan tiduran sambal diterpa arus sungai, bagai menyatu dengan alam tak sadar aku memejamkan mata beberapa saat untuk menikmati suasana hangat didalam dingin diluar (udara di Guci itu dingin) jadi sebadan panas dingin deh.
Mumpung masih disana aku juga mencoba ke tempat pemandian yang ada kucuran airnya (entah apa Bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk kata “kucuran air”), aku pun mencoba bilasan, diawali dari pinggang, punggung, pundak, leher, sampai kepala, rasanya sangat lega dan segar, hangatnya air menenangkan otot-otot yg letih, dan derasnya kucuran seperti pijatan yang merelaksasi pikiran, “enak kan dek bilasan disini?”, mama bertanya, “iya mah, angetnya nampol”, aku menjawab.
Banyak yang menikmati air panas Guci disana, bahkan ada yang mandi lengkap dengan sabun dan shampoo (hal ini tidak dianjurkan karena busanya cukup mengganggu), tapi jangan terlalu lama berada di tempat pemandian air panas karena bisa menimbulkan sesak napas. Dirasa sudah sesak aku menyudahinya behitupun mama, bude-bude, Riki, dan om Pongki, kami menuju tempat ganti baju yang sudah disediakan, setelah kami berpakaian, om Pongki mengajak untuk kembali ke vila dn istitrahat.
Terimakasih om Pongki atas rekomendasinya, perjalanan naik kereta dari Jakarta ke Tegal jadi tidak terasa pegal dan melelahkan setelah mandi di pemandian air panas Guci. Ternyata liburan tidak harus mahal, dengan tanpa biaya saja, sudah bisa relaksasi yang sangat menyenagkan. Terimakasih juga Guci, air panasmu merelaksasikan pikiranku.